BAB 1 " AKU"
Hy..! Namaku Vina Anggraini, aku sibungsu dari 3 bersaudara. Aku terlahir dari keluarga yang bisa dibilang sederhana. Orang tuaku tidaklah kaya. Hanya saja secara kebetulan aku terlahir dengan IQ yang lumayan mumpuni. Ditambah lagi dengan aku yang lebih dekat dengan papaku dan abangku, membuat aku tumbuh menjadi anak yang tomboy. Hanya saja mamaku tak pernah mengijinkanku untuk mewujudkan tomboynisasiku ini. Mamaku selalu marah jika aku berfikiran tuk memotong rambutku. Alhasil aku memiliki rambut yang panjang, lurus, hitam bak rambut iklan shampo.
Disekolah, vina bukanlah orang yang terlalu mengasikan. Dia lebih sering terlihat sendiri dari pada berkumpul dengan teman-temannya. Walau begitu vina lumayan populer di sekolah. Bagaimana tidak, rekor juara 1 dan juara umum yang selalu ia pegang membuat vina dikenal. Ditambah lagi dengan kebiasaan kebiasaan anehnya. Vina selalu membawa buku kemana-mana. Yang buat dia menjadi aneh bukan karna ia memakai kaca mata tebal, rambut kuncir kuda, dan memakai behel. Tidak, orang tua vina tidak sekaya itu untuk membelikan vina semua itu. Dan lagi vina termasuk wanita yang sangat keren dalam hal style walau dalam kesederhanaannya. Yang membuat dirinya terlihat aneh adalah ketika ia membaca buku yang bukan untuk dibaca oleh anak seusianya. Bukan bacaan porno, tapi buku buku bacaan berat seperti buku kimia dalam bahasa jerman, buku anak kuliahan. Yang membuatnya aneh adalah cara membacanya. Vina terkadang suka cekikikan sendiri ketika membaca buku-buku tersebut. Tapi ia lebih sering senyum senyum sendiri. "Dasar orang aneh" pikir teman temannya. Tapi bagi vina itu tidaklah aneh. Memang benar iya selalu membawa buku-buku bacaan berat tersebut. Tapi sebenarnya yang dia baca adalah buku komik sinchan dan komik-komik komedi.
Hari ini adalah hari berakhirnya ujian nasional. Setelah itu kami libur panjang menunggu hingga hari pengumuman tiba. Sebelum kami benar- benar menjalani hari-hari libur kami, kami satu kelas sepakat untuk membuat acara perpisahan sekaligus reunian pertama kami.
Hari yang ditunggu pun tiba. Acara itu diadakan dirumah ketua kelas yang letaknya didesa sebelah yang lumayan jauh dari rumahku. Sialnya karna motor satu-satunya mau dipakai oleh papa, terpaksa aku diantar oleh abangku. Kami semua tertawa bahagia bersama disini. Hingga hari menunjukan jam 23.15. Sudah waktunya kami pulang. Aku yang baru menyadari bahwa Hpku lowbet. Membuat aku mengambil keputusan yang lumayan berat. "Aku harus pulang dengan jalan kaki" fikirku.
Dengan perasaan was-was bercampur takut aku melangkahkan kakiku selangkah demi selangkah. Malam ini memang seperti malam malam biasa dikampungku. Sangat sepi. Yang ada hanya bunyi jangkrik dan sesekali terdengar bunyi lolongan anjing. Jarak rumah antar rumah dijalan ini pun berjauhan. Tidak seperti didesaku yang lumayan ramai.
Ditengah perjalanan, dibawah siraman cahaya rembulan aku melihat ada bayangan hitam yang berjalan sempoyongan. Pria itu masih lumayan jauh dariku. Tapi aku tahu benar dari caranya berjalan ia tengah mabuk. Jika aku mundur dan kabur, tapi kemana aku akan lari??. Jika aku diam, dia pasti akan mendekat kearahku juga dan pasti dia akan tau dengan jelas kalau aku takut. Ach lebih baik aku bersikap biasa saja dan berusaha untuk tidak menatapnya. Berharap saja dia tak menyadari keberadaanku. Perlahan aku melangkahkan kakiku dan berusaha bertingkah seperti biasa. Hingga akhirnya aku benar benar bisa melihat wajahnya. "Astaga" sepertinya aku benar-benar akan menemukan ajalku. Sosok itu adalah sosok seorang preman pasar yang sangat suka melakukan kekerasan dan pemerkosaan. Tak ada yang berani berurusan dengannya. Selain karna ulahnya itu, dia juga berhubungan baik dengan kepolisian. Atau lebih tepatnya dia dilindungi oleh polisi. "Mampus gw"
Ketika jarak kami semakin dekat, aku semakin berusaha tuk tak menatapnya. Hingga akhirnya kami benar-benar berpapasan "och.. syukurlah aku selamat". "Hei!!!" Suara berat itu membuatku benar benar terkejut bukan main. Mataku terbelalak hingga mau keluar.
"Mau kemana cantik?? Kok cuman lewat?? Aa' kan ada disini, ayok temenin Aa' kita main dokte doktelan. Hahahaha...." kata pria itu dengan keadaan benar benar mabuk. Aku hanya diam dan menoleh kearahnya. Yang terfikirkan dibenakku hanya lari dengan cepat, secepat yang aku bisa dan itu bisa membuat aku selamat. Tanpa berfikir dua kali aku berlari sekuat tenagaku. Ketika kumelihat kebelakang aku melihat ia mengejarku. Tapi ia tak berlari, iya hanya berjalan santai dan sempoyongan. Disaat aku berlari sambil sesekali aku melihat kearahnya, aku terjatuh.
Ketika aku terjatuh, dia berlari kearahku dan mencengkram rambutku. "Aaaa" hanya itu yang keluar dari mulutku sebagai luapan rasa sakit yg kurasa. Dia menarik wajahku kedekat wajahnya. Bau alkohol begitu menyengat dari mulutnya. Dan membantingku dengan keras. Dalam setengah sadar, aku berusaha menjauh dari pria bejat didepanku. Tapi dengan sigap ia menangkap tubuhku dan merobek bajuku. Dengan mudah ia juga telah mengoyak bhku. Kini aku benar benar telanjang dada dihadapannya. Hal itu sungguh membuatku benar benar ketakutan dan panik. "Apakah aku akan berakhir disini??, apakah hanya sampai disini keperawananku??, keperawananku??, iya aku tak ingin kehilangan keperawanan sekarang, apa lagi harus hilang ditangan orang bejat ini, tidak,, tidak!!!, tidaaak!!!!". Fikirku sambil terus merangkak mundur menjauh darinya.
Dia memegang kakiku kuat dan menarikku kedekapannya. Dia menduduki pusarku. Berusaha menciumku dengan ganas. Air mataku tak henti-hentinya mengalir. Dia mencium pipiku, telingaku, leherku, dan bagian pinggir bibirku. Itu karna aku selalu mengalihkan bibirku darinya. Hingga tanggannya mulai menggerayangi payudaraku. Meremasnya dengan kasar. Ntah kenapa aku mulai mendesah dan sudah tak berontak lagi. Tapi yg kutau pasti kulakukan itu demi menghemat tenagaku. Sepertinya dia sadar kalau aku sudah mulai menikmati permainannya. Hingga akhirnya ia melepaskan cengkraman tangannya ditanganku dan beralih meremas payudaraku dan selangkanganku. Sejujurnya aku sudah kehabisan tenaga. Makanya aku memilih untuk diam dan pasrah. Namun, ketika ia mulai berusaha membuka celana jeansku dengan posisi mengangkangiku. Dengan sekuat tenaga aku menendang kemaluannya. Hal itu membuat ia teriak histeris dan bersumpah untuk membunuhku. Itu yang ia teriakkan. Ketika aku coba meloloskan diriku, aku melihat ada bongkahan batu yang cukup besar. Tanpa berfikir dua kali aku langsung mengangkat batu tersebut dan memukulkan batu itu tepat ke kepalanya. Dia mulai sempoyongan. Namum ntah dari mana kekuatan itu. Aku seperti kesetanan. Aku tak berhenti memukulkan batu tersebut kekepalanya. Walau kutau ia telah meninggal, aku tetap memukulnya. Sepertinya samar samar aku mendengar suara yang berkata "bunuh.. bunuh dia... lepaskan semuanya.. yeach.. ia pantas mendapatkannya" berulang kali.
Setelah benar benar lelah, aku tersadar kalau aku telah membunuh. Lumayan lama aku terduduk menatap mayat yang dipenuhi darah itu. Hingga aku tersadar dan membersihkan tubuhku di sungai dekat jalan. Setelah itu aku menambahkan luka luka lain dan menjatuhkannya kedalam sungai. Aku kembali mengenakan pakaianku dan memakai jaketku. Dengan jaket yang kukenakan aku bisa kembali kerumah tanpa kecurigaan dari siapapun.
Sesampai dirumah, aku hanya diam dan langsung masuk kamar. Sesampai dikamar aku langsung mengganti pakaian ku dan duduk seperti biasa diatas ranjangku. Aku hanya diam. Fikiranku benar benar kosong. Terlalu banyak yang kufikirkan membuatku tak bisa berfikir apa-apa.
Perlahan aku mengangkat tanganku seperti orang berdoa. Kuperhatikan dengan seksama tanganku. Kubayangkan tanganku yang berlumuran darah tadi. Aku memikirkan apa yang telah tanganku lakukan. Tanpa kusadari tanganku gemeteran. Aku menitikkan air mata. Dari mataku terpancar rasa takut, dan penyesalan yang luar biasa. Namun mulutku tersenyum lebar dan tertawa terbahak bahak. "Iya aku telah membunuh". "Tapi aku takut". "Tidak.. tidak dia pantas mendapatkannya"." Tapi bagaimana kalau ada yang tau"." Tidak.. tidak ada yang tau". "Tapi...". "Tapi apa?". "Tapi kenapa harus aku??? Kenapa dia melakukan ini kepadaku???" ."berkacalah maka kau akan tau jawabannya". "Apa??". "Iya itu karna kamu, kamu yang membuat semua ini terjadi". Kemudian vina berjalan kearah cermin dan melihat dirinya dicermin. "Lihatkan?? Alasan semua ini terjadi". "Apa!?". "Itu karna kamu". "Aku?? Apa salahku??". "Karna kamu wanita, karna kamu itu cantik, kamu wanita cantik. Dan itu racun buatmu tapi surga kenikmatan bagi lelaki". "Iya.. itu karna wajahku, tubuhku, haruskah aku merubahnya?? Tidak... tidak ada yang akan berubah. Aaaaa.... pergilah dari fikiranku pergilah!!!" Kata vina dan kemudian ia tertidur.
Beberapa hari kemudian tersiar kabar telah ditemukan mayat seorang preman yang paling meresahkan warga. Dari beberapa selentingan vina mendengar bahwa banyak yang bersyukur akan kematiannya. Dan ia mati jatuh kesungai karna mabuk beratnya. Tidak terdengar kabar pembunuhan melainkan kabar mati karna terjatuh ke sungai. Dengan senyum lega vina kembali kekehidupan normalnya.
Beberapa minggu kemudian pihak sekolah memberitahukan keluarga vina. Kalau vina lulus dengan nilai terbaik se Indonesia. Dan vina juga diterima di universitas negri di Jakarta dengan beasiswa full. Berita ini sungguh menghapus semua trauma pada diriku. Dan sekarang aku tengah mempersiapkan kepindahanku ke Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar