Rabu, 30 Oktober 2013

Vina Anggraini The Story 3

Hari ini adalah hari pertamaku kuliah. Dan aku tak mau terlambat karna alasan apapun. Untuk itu aku lekas bangun dan menyiapkan diriku untuk kampus. Serta membantu tante prita menyiapkan sarapan. Setelah aku siap dengan diriku aku langsung pergi kedapur. Namun langkahku tiba-tiba terhenti bahkan jauhdari dapur dan meja makan. Dari balik tirai pintu ruang makan. Aku melihat tante prita dan om endru yg  begitu kompak dan romantis. Mengingatkanku pada orang tuaku dikampung. Tanpa kusadari air mataku menetes begitu saja. Yeach bagaimana pun aku tak bisa lepas dari takdirku sebagai anak bungsu.

"Hey vina ayok sini kita sarapan bareng!" Ajak om endru

"Iya ntar kamu telat lagi" tambah tante prita

Aku hanya mengangguk pelan dan berjalan kearah mereka.

"Mmm vina kamu tidak makan??" Tanya tante prita

"Ach jangan jangan masakan tante kamu gak enak ya??" Tambah om endru

"Aach.. gak kok om, tan, enak...... hanya saja aku terlalu gugup" jawabku jujur

"Gugup??" Tanya tante prita. Setelah itu mereka saling berpandangan keheranan dengan perkataanku.

"Iya tan. Ini kali pertamaku dijakarta. Aku harus menjalani ospek alaanak-anak jakarta. Hach... ngebayanginnya aja buat aku gugup gini. Apa lagi..." aku tak berani melanjutkan kata kataku

" vin apa yang kamu fikirkan terkadang tidaklah menjadi kenyataan. Walaupun itu nanti menjadi nyata. Bagaimana pun kamu tidak boleh lari. Itu adalah hal-hal lumrah yg akan kamu temui dijalan hidupmu. Jadi kamu tidak boleh takut apa lagi sampai berfikir untuk mundur" terang om endru yang menyadarkanku akan tujuanku kejakarta.

"Ya sudah. Ayok kalian bergegas, biar kalian gak telat" printah tante prita

"Siap bos!" Jawab om endru bak seorang prajurit. Sedang aku menjawabnya hanya dengan senyum simpul khasku.

Layaknya seorang istri, tante prita melepas kami pergi hingga menuju mobil. Dan melambaikan tangan pada kami. Usut punya usut, hal itu telah dilakukan tante prita bahkan ketika mereka masih pacaran.

Akhirnya hari pertamaku OSPEK pun dimulai. Berdasarkan dari surat yang kuterima. Aku mendapat kelas 1b. Teman sekelas pun sudah kudapat. Walau masih belum begitu akrab. Selain itu, sifatku yang sangat susah beradaptasi dengan orang baru juga mempengaruh.

Tak lama seorang wanita mengenakan almamater datang dan menyuruh kami berkumpul di lapangan. Tanpa banyak bertanya kami pun menuju ke lapangan. Ternyata disana telah berkumpul semua peserta OSPEK. kami disuruh berbaris rapi dan memakai perlengkapan konyol ala OSPEK. Tak lama seorang pria berdiri didepan umum dan berkata dengan lantang "dengar!!! Hari ini kalian dikumpulkan disini untuk OSPEK bukan untuk bersenang-senang. Kalian akan mengikuti semua kegiatan ospek selama 3 hari penuh. Tanpa terkecuali. Namun sebelum kita memulai. Ketua senat kita akan memberikan kalian pengarahan. Dengarkan pengarahan ketua senat, jika kalian ingin aman dalam pelaksanaan OSPEK".

Tak lama pria itu turun dan ketua senat pun melangkah ke arah stik mic. "Selamat pagi semua!!!". Sapanya.

"Pagi...!" Jawab kami kompak.

"HAch..! Cowo itu??... jadi dia kuliah disini. Dan dia ketua senat??"kataku dalam hati. Betapa kagetnya aku ketika aku bisa melihatnya kembali. Ntah kenapa aku jadi begitu bahagia. Seperti seorang istri prajurit yg bahagia melihat suaminya pulang setelah memenangkanperang. Dan yang gilanya lagi aku seperti melihat dia berubah menjadi lampu neon. Sangat bercahaya. Hingga aku benar benar terpana akan pesonanya. Hingga jujur aku tak tau apa yg dikatakannya.

Setelah acara baris berbaris selesai, kami pun langsung menjalani jadwal OSPEK hari pertama. Dari yang lucu, konyol, gila, sampai yang dramatis pun kami lalui hari ini. Jujur hari ini begitu melelahkan. Padahal masih hari pertama.

Sesuai janji om endru, aku tetap menunggunya didepan kampus. 1 jam, dua jam pun berlalu sosok om endru tak juga nongol-nongol. Aku yang tak punya handphone, tak bisa apa apa selain memutuskan untuk pulang dengan modal nekat. Yeach berhubung aku tidak tahu jalan pulang. Dari kampus aku hanya berjalan hingga menuju halte.Berharap ada orang yang berbaik hati sekaligus mengetahui arah jalan kerumah.

Ketika tengah berjalan dan melihat sekitar. Berharap aku akan melihat taxi. Namun hal itu malah membuat aku lengah dan menabrak seseorang.

"Bruk" begitulah kira kira bunyinya.

"Aduch" terdengar suara yg sepertinya familiar ditelingaku.

"Aduch.. maaf... maaf!" Kataku karna kutahu aku yang salah. Ternyata ketika aku benar benar melihat kearah wajahnya. Astaga.. aku benar benar kenal wajah itu. Namun karna aku takut ia lupa padaku, aku hanya diam saja.

"Ach!! Kamu??" Katanya yang kutahu dari papan nama di dadanya bernama Berlian Abraham. Aku benar benar kaget ternyata ia masih ingat padaku.

"Ngapain kamu ada disini?? Kamu gak tersesat lagi kan??" Tambahnya lagi.

" maaf kak. Sepertinya kita selalu bertemu disaat yg gak tepat ya??"

"Jadi benar kamu kesasar??"

Karna terlalu malu aku hanya bisa mengangguk dengan pipi yang mulai kemerahan.

"Hahaha... kamu lucu banget sich apa lagi saat pipimu memerah"

Sumpah mendengarnya membuat jantungku memompa darah jauh lebih cepat hingga membuat pipiku tidak lagi merah merona. Tapi lebih mirip udang rebus. Melihat wajahku yang semakin memerah membuat berlian tak kuasa menahan tawanya.

"Kamu mau kemana sekarang??" Tanya berlian dengan lembut setelah puas menertawaiku.

"Aku mau pulang kerumah tanteku. Tapi aku gak tau kemana arah jalannya" jawabku dengan suara seperti mau menangis.

"Och tantemu yang kemaren itu ya. Syapa namanya?.. ach.. tante prita ya??"

"Loch kok kamu tahu nama tanteku??"

"Oo itu karna tante kamu yang bilang. Tapi tunggu kamu gak ingat apa dimana alamatnya??"

"Kalau sekedar alamatnya aku tahu. Tapi aku harus naik apa dari sini ke rumah aku gak tau"

"Ya udah apa alamatnya?? Biar aku antar kamu sampai kerumah"

"Apa!! Aku udah sekali ngerepotin kamu dan aku gak mau ngerepotin kamu tuk yang kedua kalinya"

"Aaa.. gak untuk yang kali ini aku gak ngerepotin kamu kok. Kamu masih ingatkan kalau aku masih punya hutang makan malam sama tante kamu"

"Ach.." ternyata anak ini masih ingat dengan undangan makan malam tante. Kupikir dia menolaknya karna benar benar tidak ingin. Tapi sepertinya tidak juga.

"Kamu ingatkan?? Jangan jangan kamu sudah melupakannya ya??"

"Aaa.. bagaimana mungkin aku bisa melupakan hal itu. Ya sudah. Ini alamatnya. Aku harap kamu benar benartahu alamat itu" kataku walau sedikit tidak percaya.

Setelah aku memberikan alamat rumah tante prita. Kami pun melangkah menuju mobil berlian. Tak kusangka ternyata mobilnya benar benar mewah. Mobil sport laferrari berwarna merah. Dalam hatiku berkata "mobil idaman gw nich". Sumpah tampilan fisik luar maupun dalam mobil ini bener2 keren.

Ternyata berlian memang benar-benar anak jakarta. Dia mengantarkanku tepat sampai dirumah. Dan ntah kenapa walau aku baru 2 kali bertemu dengannya, aku sudah sangat merasa nyaman berada didekatnya. Seolah aku tahu kalau ada berlian, bahaya pasti menjauh dariku. Begitu didepan pagar, betapa terkejutnya tante prita melihatku pulang bukan bersama om endru.

"Ya ampun vina... akhirnya kamu pulang nak.. tante fikir kamu bakal kesasar ato kek gimana" kata tante panik.

"Gak papa kok tan" jawab ku berusaha menenangkan tante.

"Iya habis kamu gak punya hp, jadi tante ma om bingung tuk nelpon kamu. Sekali lagi tante minta maaf ya vin.. om endru mendadak dapet tugas ke bandung jd gak bisa jemput kamu" terang tante.

"Iya gak papa tan. Vina ngerti kok. Untung ada kak berlian yg nganterin aku tan"

Tante prita melihat kearah berlian. Sadar ia tengah dilihat oleh tante, dengan sopan berlian tersenyum dan membungkuk seraya menyapa tante. Semula tante prita mengerutkan keningnya seraya mengingat pemuda didepan matanya. "Kamu,???"

"Ia tan ini saya. Masih inget kan sama saja dan janji tante??" Jawab berlian sambil senyum akrab.

"Iya dong.. kamu kan cowo ganteng yg udah nolak undangan makan malam tante"

"Hehehe...tante bisa aja. Itu kan karna kemaren saya lagi sibuk ngurus rencana jadwal ospek tan. Kalau sekarang saya 100% ada waktu"

"Ngurus jadwal ospek??"

"Iya tan. Kak berlian ini ketua senat dikampusku"

"Oo jadi kalian satu kampus??"

"Iya tan" jawabku. Sedang berlian hanya tersenyum simpul.

"Ya udah kalau kamu mau makan malam disini, kalian harus bantu tante masak. Oke!!"

"Sip" jawab kami kompak.

Setelah acara masak memasak selesai. Kami pun makan malam bersama. Setelah semuanya selesai, dengan sopan berlian izin pulang.

             |₩€€|\€₩|\€\|€\€€£¥£€\¥₩


Keesokan harinya karna sudah kecapean. Aku jadi bangun kesiangan ditambah lagi dengan semalam om endru pulang sangat larut. Terpaksa aku tidak sarapan dan pergi dengan menggunakan ojek dikomplek rumah. Nasib sial melandaku hari ini. Aku benar benar telat. Senior yang bertanggung jawab atas kelasku memberikanku hukuman. Aku disuruh membersihkan taman yang ada dibelakang kampus. Tapi menurut mataku itu bukan taman. Melainkan hutan semakbelukar. Katanya aku seharian dibebaskan dari tugas ospek dan aku harus membersihkan taman ini.

Tanpa banyak berkata akupun membersihkannya. Menghilangkan semua rumput rumputnya dan membuat taman itu benar benar berbentuk taman. Karna keasikan membersihkan taman. Tanpa kusadari seragam putihku tak lagi berwarna putih. Perpaduan warna lumpur, debu, sampah dan dedaunan menjadi warna dan corak dari bajuku sekarang. Begitu selesai aku langsung melapor kepada senior penanggung jawabku. Dan dia berkata "ya sudah kamu boleh pulang". "Beneran kak aku boleh pulang??" Tanyaku tak percaya. " iya.. temen temen kamu udah pulang dari tadi. Karna kamu begitu pulas tidur makanya saya gak berani bangunin kamu" jawab kakak senior. " ya udah kak saya pulang dulu". Aku langsung pulang kerumah. Namun kali ini aku bisa sendirian.

Sesampai dirumah, lagi lagi aku membuat tanteku panik. Palagi karna melihat warna bajuku.

" kamu kenapa vin... jatuh??"

"Gak tan. Tadi karna telat, aku dapat hukuman wat bersihin taman. Jadi kayak gini deh tan"

"Ya udah mandi sana biar bajunya tante cuci"

Tanpa banyak protes lagi aku menurut saja. Setelah dicuci, bajuku pun dijemur. Eee.. ternyata hujan datang. Sangat deras sekali. Akhirnya mau gak mau. Bajuku tak bisa ku pakai sama sekali.

"Gimana nich tan bajuku belum kering??"

"Ach..! Tunggu sebentar" katanya dan langsung meninggalkanku. Tak berapa lama beliau keluar dari kamarnya sambilmembawa kain putih.

"Vin ini ada baju lama tante. Tapi ini warnanya masih putih bersih kok. Cuman mmmm... mungkin ini kayaknya agak kecil dech buat kamu"

"Gak papa dech tan. Sini ku coba dulu mana tau pas" kataku sambil membawa pakian itu kedalam kamarku. Tak berapalama "gimana vin pas gak??". Akuhanya diam saja. Karna ku bingung mau jawab apa. Menurut badanku sich pas, tapi setelah kuliat di cermin sepertinya ketat. " wah kamu keliatan çantik banget pake baju itu, kayaknya ituemang ukuran kamu dech". " iya tan tapi apa gak terlalu ketat ya??". "Ach gak kok. Itu karna kamu biasa pake baju oblong-oblong makanya jadi risih kalo pake baju ngepas" jelas tante.

Karna aku gak punya baju lagi, terpaksa aku memakainya untuk besok.

              €¥《♡`♥`♥`¤~·`》¥€

Keesokan harinya. Kali ini aku gak terlambat. Tapi aku benar-benar merasa aneh. Dari aku keluar kamar lalu duduk di meja makan bahkan sampai aku duduk disampingnya dalam mobil. Om endru selalu menatapku dengan tatapan yang aneh. Apa lagi ketika didalam mobil, aku bisa merasakan mata om endru mengarah langsung ke dadaku.

Begitu aku sampai di kampus. Mulai dari gerbang hingga aku masuk kekelas. Semua pria menatapku dengan tatapan yang aneh. Tak jarang ada yang terang-terangan menggodaku. Sampai acara baris berbaris di pagi hari pun berakhir. Sekarang adalah jadwal kegiatan pembagian junior dan senior. Setiap kami akan dipasangkan dengan senior. Untuk dididik atau bahkan dikerjai. Namun ada beberapa senior pria yang berusaha menjadikanku juniornya. Namun ketika seseorang dengan gaya seperti preman datang dan memintaku sebagai juniornya, mereka semua malah mundur teratur. Aku gak tau siapa dia. Yang jelas firasatku sangat buruk.

"Kamu!! Sini!!" Perintahnya. Aku hanya mengangguk dan menuju kearahnya.

"Kamu sangat beruntung karna yang menjadi seniormu ada dua orang. Satu hari ini kamu harus jadi junior yang baik.Mengerti!!??" Kata pria yang lebih tua. Aku gak tau siapa mereka tapi aku bisa bilang dia pria yang tua.

"Ba... baik kak"

"Bagus.. kalau gitu sekarang kamu ikut kami" perintah seorang pria berbadan kurus dengan wajah yang lumayan tampan dan lebih muda dari temannya.

Dengan polosnya aku mengikuti kemana pun mereka pergi. Sampai pada sebuah ruangan kosong yang agak terpencil dari lingkungan kampus. 

"Ayo masuk!" Kata pria muda dengan suara yang lembut. Aku pun menuruti perkataannya.

"Kamu gak usah takut. Kita disini gak akan ngapa-ngapain kamu. Kamu taukan ini hanya semata mata kegiatan untuk mendekatkan junior dengan senior??" Kata pria muda itu dengan lembut.

"Ok. Kalau gitu kamu mengertikan??" Tanya pria tua.

"I..iya kak" jawabku gugup.

"Kalau gitu hibur kami!" Perintah pria tua

"Hibur??" Tanyaku bingung

"Iya" jawab pria muda

"Udah gak usah lama lama, menarilah!!" Perintah pria tua itu

"Iya anggap saja kamu sedang mendengar musik dangdut sekarang" kata pria muda lembut. Tunggu... ku pikir pikir sepertinya pria muda itu memang memiliki suara yang lembut.

"Ba..baiklah kak" kataku kemudian aku menggerakkan tubuhku sekenanya saja. Namun karna memang bajuku yang ketat, membuat tarianku yang ngasal menjadi erotis. Hingga membuat pria tua tak sabaran juga ikut bergoyang bersamaku. Awalnya jaraknya lumayan normal, tapi lama kelamaan dia semakin mendekatiku hingga membuatku refleks mundur darinya. Menyadari langkahku yang mundur pria muda menghalangiku dengan berjoget tepat dibelakangku. Hingga tiba tiba ia menepuk pundakku dan menyuntikan sesuatu. Sontak membuat aku kaget dan menjauh dari mereka. Namun pria tua itu menghidupkan musik dj yang ada di handphonenya. Dan entah kenapa sepertinya tubuhku bergerak sendiri. Tubuhku kembali enjoy dan membaur dengan musik. Pria tua itu kembali mendekatiku namun anehnya aku hanya mundur selangkah. Karna dibelakangku ada pria muda yang menghalangiku. Ia langsung menciumi leherku dari belakang. Aku ingin merontah dan marah. Tapi yang keluar hanya desahan dari mulutku. Apa lagi ketika tangannya dari belakang merangkul dadaku dan meremas payudaraku. Desahanku makin menggila. Seperti tak mau kalah, pria tua datang dari depan dan hendak langsung mencuim bibirku. Namun refleks aku mengalihkan bibirku, hingga ia akhirnya mencium dan menjilati telingaku.  Ternyata sepertinya ia menemukan daerah sensitifku disana. Rasanya sungguh geli plus nikmat.

Kurasakan tangannya dengan kasar meraba perutku dan menarik rokku yang 10 cm diatas lutut. Lalu dimasukan jemarinya kedalam celana dalamku dan meremas pantatku. Tak sampai disitu aku merasakan jemarinya mengorek ngorek liang surgaku. Sungguh itu membuat kakiku melemas. Namun pria tua itu dengan sigap menahan tubuhku.

Tak hanya sampai disitu, desahanku makin tak karu-karuan ketika pria muda yang dari belakang memelintir putingku. Ntah kapan ia melakukannya yang jelas kancing bajuku telah terbuka seluruhnyadan bh ku sudah tak tau dimana. Ternyata begitu pun juga dengan rok dan celana dalamku. Sungguh sekarang aku benar benar seperti bayi yang baru lahir kedunia. Akubenar benar menikmati setiap perlakuan yang mereka berikan kepadaku. Mungkin ini yang orang bilang digerayangi dari depan dan belakang. Aku benar benar menggila. Desahanku terdengar keseluruh ruangan. Hingga akhirnya tubuhku bergetar dan aku berteriak sekencang kencangnya. Hingga tubuhku ambruk diatas lantai kotor.

Sayup-sayupku mendengar mereka berbicara "gimana bang??"

"Enaknya sih sekarang aja mumpung gue lagi ngeceng gini" kata pria tua sembari menghampiriku

"Tapi bang bukannya gak enak ya kalau dia lagi tidur??"

"Lu goblok ya?? Inex itu gak bakal bertahan lama. Mumpung ni cewe lagi ngefly n horny gue pengen ngentotin dia" 

"Tapi bang... gimana kalau dia masih perawan???"

"Wah itu tandanya kita untung besar. Gue jadi makin semangat nich. Lagian rob gue udah lama gak ngeprawanin anak orang. Sekarang susah tau nyari yang perawan"

"Gawat.. gw... keperawanan gw.. gak... itu gak boleh hilang sekarang... gw gak mau... gw harus berjuang melawan apapun ini" kataku dalam hati

"Lu sabar ya rob.. lu main setelah gue. Lu gak marahkan??"

"Gak bang"

"Gawat dia semakin mendekat... gw harus pergi dari sini" batinku sambil berusaha bangun.

"Ech.. neng cantik udah bangun. Mau kemana neng. Ooo... neng udah gak sabar ya pengen ngelayanin abang sampe liangnya di obral gitu"

"Gawat tanpa ku sadari ternyata jalan mundurkumembuat posisi tubuhku jadi ngangkang seperti ini" batinku.

Aku berteriak sekencang yang aku bisa bermaksud untuk minta tolong. Tapi malah yang terdengar seperti desahan.

"Aduh eneng,, ternyata bener bener gak sabar ya.. pake ngerayu abang dengan desahan gitu" kata pria tua.

"Gawat aku malah memancingnya" batinku. Aku semakin ketakutan. Aku terus merangkak mundur sambil tetap menghadap kearahnya. Ketakutanku semakin memuncak ketika aku melihat pria tua dengan santainya berjalan kearahku. Dengan senyum penuh kemenangan ia berjalan kearahku sambil perlahan membuka celananya dan mengeluarkan penisnya. Dengan santai ia tetap berjalan kearahku dengan sedikit membungkukkan badannya sambil menggosok-gosok penisnya, seraya hendak dihadapkannya kepadaku.

Aku tetap berusaha merangkak mundur, menjauh darinya. Tak berapa lama ketika aku mengarahkan tanganku....!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar